Ringkasan Inovasi

Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, menjadi lokasi penerapan inovasi teknologi tepat guna berupa Alat Penabur Pupuk Sederhana berbahan pipa paralon (PVC) yang dikembangkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya pada 30 Juni–28 Juli 2025 [1] [10]. Inovasi ini lahir sebagai respons terhadap permasalahan pemupukan manual yang tidak efisien, memakan waktu, menguras tenaga, dan menyebabkan distribusi pupuk tidak merata di lahan pertanian skala rumah tangga milik warga Dusun Tegaron dan Dusun Tulaan [1]. Alat sederhana ini memungkinkan petani menyalurkan pupuk langsung ke area perakaran tanaman secara tepat sasaran, merata, dan ergonomis tanpa harus membungkuk berulang kali. Dampak utama inovasi ini adalah peningkatan efisiensi waktu pemupukan hingga 40–50 persen dibandingkan metode konvensional [3], sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur [1].

Latar Belakang

Desa Panggungrejo terletak di Kecamatan Kepanjen yang merupakan ibu kota Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Secara administratif, desa ini memiliki luas wilayah sekitar 3 km² dan terbagi menjadi tiga dusun, yaitu Dusun Panggung, Dusun Tegaron, dan Dusun Tulaan [2]. Desa ini berbatasan dengan Desa Cepokomulyo di sebelah utara, Desa Mangunrejo di selatan, Desa Kedungpedaringan di timur, dan Desa Jatikerto (Kecamatan Kromengan) di sebelah barat. Jumlah penduduk Desa Panggungrejo tercatat sekitar 8.213 jiwa dengan kepadatan 2.399 jiwa per km², di mana kelompok usia produktif (19–65 tahun) mendominasi dengan 4.915 jiwa [4]. Secara historis, wilayah Panggungrejo memiliki keterkaitan erat dengan sektor agroindustri — Pabrik Gula Panggungrejo (Suikerfabriek Panggoongredjo) yang berdiri sejak 1898 menjadi bukti bahwa pertanian telah mengakar di desa ini selama lebih dari satu abad [9]. Wilayah Dusun Tegaron memiliki karakter lingkungan perbukitan dengan suhu yang cenderung sejuk dan lembap, sementara dusun lainnya merupakan dataran rendah yang cocok untuk pertanian pangan.

Meskipun terletak di wilayah ibu kota kabupaten, sebagian besar warga Dusun Tegaron dan Dusun Tulaan masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama [1]. Komoditas unggulan yang dibudidayakan meliputi padi, jagung, dan palawija, sejalan dengan posisi Kecamatan Kepanjen sebagai salah satu penyumbang produksi padi terbesar di Kabupaten Malang dengan luas panen 5.043 hektar dan total produksi 35.856 ton pada tahun 2023 [5]. Namun, di balik potensi pertanian yang besar tersebut, petani skala rumah tangga di kedua dusun ini masih menghadapi permasalahan klasik dalam proses pemupukan. Metode pemupukan manual — menaburkan pupuk dengan tangan — memakan waktu rata-rata 3–4 jam per 1.000 m² lahan, menguras tenaga karena petani harus membungkuk berulang kali, dan menghasilkan distribusi pupuk yang tidak merata sehingga sebagian tanaman kelebihan dosis sementara yang lainnya kekurangan [3].

Momentum perubahan hadir ketika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya memberangkatkan 743 mahasiswa KKN pada 30 Juni 2025 ke 51 desa di 12 kecamatan Kabupaten Malang, termasuk Kecamatan Kepanjen, dengan tema besar “MIPA Membangun Desa melalui Teknologi Tepat Guna” [10]. Melalui observasi lapangan dan diskusi intensif dengan kelompok tani serta ibu-ibu PKK, mahasiswa KKN yang diterjunkan ke Desa Panggungrejo mengidentifikasi bahwa kebutuhan mendesak petani bukan pada ketersediaan pupuk, melainkan pada cara penyaluran pupuk yang efisien dan tepat sasaran [1]. Ketiadaan alat bantu pemupukan yang terjangkau dan mudah dioperasikan menjadi celah yang harus segera diisi. Fakta bahwa petani di desa ini rata-rata mengolah lahan pekarangan seluas 200–500 m² — bukan lahan sawah berskala besar — semakin memperkuat urgensi solusi teknologi tepat guna yang murah, sederhana, dan dapat dibuat sendiri oleh warga.

 

Inovasi yang Diterapkan

Ide pembuatan alat penabur pupuk sederhana ini berawal dari studi literatur mahasiswa terhadap berbagai inovasi teknologi tepat guna pertanian yang telah diterapkan di daerah lain, seperti di Desa Lamatti Riattang, Sinjai, Sulawesi Selatan [8], Desa Jabon, Sumbawa [3], Pracimantoro, Wonogiri [6], dan Padang Pariaman, Sumatera Barat. Konsep dasar alat yang menggunakan pipa PVC sebagai tabung penampung pupuk dengan mekanisme katup sederhana di bagian bawah kemudian diadaptasi sesuai kebutuhan spesifik petani skala rumah tangga di Desa Panggungrejo. Mahasiswa memodifikasi desain dengan menyesuaikan panjang pipa agar ergonomis bagi pengguna perempuan yang menjadi mayoritas peserta pelatihan.

Secara teknis, alat penabur pupuk ini terdiri dari pipa PVC utama berdiameter 2–3 inci dengan panjang 80–120 cm sebagai tabung penampung pupuk [3]. Pada bagian bawah pipa terdapat lubang keluaran yang dilengkapi mekanisme katup berupa potongan pipa berdiameter lebih kecil (¾ inci) yang dikendalikan oleh pegas dari karet ban dalam bekas. Bagian atas pipa ditutup dengan tutup pipa (dop) yang dapat dibuka untuk mengisi pupuk. Cara penggunaannya cukup intuitif: petani mengisi pupuk ke dalam tabung, lalu menekan ujung bawah pipa ke permukaan tanah di dekat pangkal tanaman [1]. Tekanan tersebut membuka katup dan melepaskan takaran pupuk langsung ke zona perakaran. Ketika alat diangkat, karet pegas menarik katup kembali ke posisi tertutup sehingga pupuk tidak tumpah [6].

Elemen pembeda utama inovasi ini dari pendekatan konvensional terletak pada tiga aspek. Pertama, aspek ergonomis — petani tidak perlu membungkuk sehingga mengurangi risiko nyeri punggung kronis yang lazim dialami petani lanjut usia [3]. Kedua, aspek akurasi — pupuk tersalurkan langsung ke zona perakaran tanpa terbuang ke area yang tidak produktif [1]. Ketiga, aspek ekonomis — biaya pembuatan satu unit alat hanya sekitar Rp 50.000 dengan bahan yang tersedia di toko bangunan terdekat, dan pipa bekas pun dapat didaur ulang sebagai bahan utama [3].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan inovasi dimulai dengan tahap persiapan selama dua minggu pertama masa KKN yang berlangsung 30 Juni–28 Juli 2025 [10], di mana mahasiswa melakukan survei kebutuhan masyarakat, pemetaan potensi pertanian, dan identifikasi permasalahan utama di Dusun Tegaron dan Dusun Tulaan. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden petani mengeluhkan lamanya waktu pemupukan dan sebagian besar mengalami keluhan fisik berupa nyeri punggung akibat posisi membungkuk saat menabur pupuk secara manual. Data ini menjadi dasar (baseline) untuk mengukur dampak inovasi di kemudian hari.

Tahap pengembangan prototipe berlangsung selama satu minggu. Mahasiswa membuat tiga varian prototipe dengan panjang pipa berbeda (80 cm, 100 cm, dan 120 cm) untuk menguji kesesuaian dengan postur tubuh pengguna. Percobaan pertama menggunakan prototipe 80 cm dengan katup dari tutup botol plastik mengalami kegagalan karena katup tidak cukup kuat menahan beban pupuk granular dan sering macet saat ditekan ke tanah yang keras. Kegagalan ini mengajarkan bahwa material katup harus memiliki ketahanan mekanis yang memadai. Mahasiswa kemudian mengganti mekanisme katup menggunakan potongan pipa PVC ¾ inci yang dikendalikan oleh karet ban dalam bekas sebagai pegas, dan desain ini terbukti jauh lebih andal serta tahan lama [3].

Tahap sosialisasi dan pelatihan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan rutin ibu-ibu PKK di Balai Desa Panggungrejo [1]. Selain demonstrasi penggunaan alat penabur pupuk, kegiatan ini juga diintegrasikan dengan pelatihan pembuatan pupuk organik dari limbah dapur dan program BISBANG (Biopestisida dari Kulit Bawang), yaitu inovasi TTG lain dari mahasiswa KKN FMIPA UB yang mengolah limbah kulit bawang merah dan putih menjadi insektisida alami [7]. Kulit bawang diketahui mengandung senyawa aktif seperti acetogenin, flavonoid, saponin, terpenoid, dan squamosin yang berfungsi sebagai insektisida, serta hormon auksin dan giberelin untuk merangsang pertumbuhan tanaman [7]. Integrasi tiga program sekaligus — alat penabur, pupuk organik, dan biopestisida — menciptakan paket solusi pertanian terpadu yang saling melengkapi bagi petani skala rumah tangga.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal yang dihadapi adalah tingkat literasi teknologi sebagian warga yang masih rendah, terutama petani lanjut usia yang terbiasa dengan metode konvensional turun-temurun. Beberapa petani senior awalnya skeptis terhadap efektivitas alat berbahan paralon yang terkesan “terlalu sederhana” untuk bisa memberikan dampak signifikan. Mitigasi dilakukan melalui pendekatan demonstrasi langsung (learning by doing) di lahan pertanian warga, di mana mahasiswa mengajak petani membandingkan kecepatan dan hasil pemupukan antara metode manual dan penggunaan alat [1]. Bukti empiris di lapangan — bahwa waktu pemupukan berkurang hingga separuhnya — berhasil meyakinkan warga yang awalnya ragu [3].

Tantangan eksternal meliputi keterbatasan ketersediaan pipa PVC bekas yang layak pakai di lingkungan desa dan durasi program KKN yang hanya 29 hari [10]. Tidak semua warga memiliki akses mudah terhadap bahan baku, terutama di Dusun Tegaron yang secara geografis lebih terpencil. Mitigasi yang ditempuh adalah menjalin koordinasi dengan toko bangunan di pusat Kecamatan Kepanjen untuk menyediakan stok pipa PVC baru dengan harga terjangkau (Rp 15.000–25.000 per batang), serta menghimbau warga mengumpulkan pipa bekas dari proyek pembangunan atau renovasi rumah di sekitar desa. Untuk keberlanjutan pascapelatihan, mahasiswa menyerahkan modul pelatihan tertulis dan video tutorial kepada kader PKK sebagai fasilitator lanjutan [1].

Kendala keberlanjutan muncul karena inovasi ini digagas mahasiswa KKN yang masa tugasnya terbatas, sehingga tidak ada individu tetap di desa yang secara formal bertanggung jawab mengembangkan alat lebih lanjut setelah program berakhir. Mitigasi dilakukan dengan melibatkan kelompok PKK sebagai mitra pelatihan sejak awal, mengingat PKK merupakan kelembagaan desa yang bersifat permanen dan rutin mengadakan pertemuan warga [1]. Pendekatan ini memastikan pengetahuan pembuatan alat tetap tersimpan dalam komunitas, tidak hilang begitu mahasiswa KKN menyelesaikan masa pengabdian.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan penerapan inovasi ini ditopang oleh sinergi antara beberapa pemangku kepentingan kunci. Universitas Brawijaya, melalui program KKN FMIPA yang menerjunkan 743 mahasiswa ke 51 desa [10], menyediakan sumber daya intelektual dan tenaga pendamping lapangan yang memahami pendekatan ilmiah dalam merancang teknologi tepat guna. Pemerintah Desa Panggungrejo berperan sebagai fasilitator kelembagaan yang membuka akses terhadap fasilitas Balai Desa sebagai lokasi pelatihan dan mengoordinasikan partisipasi warga [1]. Kelompok PKK menjadi penggerak sosial yang efektif karena memiliki jaringan komunikasi yang kuat hingga ke tingkat RT/RW.

Modal sosial berupa tradisi gotong royong dan kegiatan rutin PKK menjadi faktor pengikat partisipasi yang tidak bisa diabaikan. Keputusan untuk mengintegrasikan pelatihan alat penabur pupuk dengan kegiatan rutin PKK yang sudah berjalan — bukan membuat acara terpisah — adalah strategi cerdas yang meminimalkan resistensi dan memaksimalkan kehadiran peserta. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan dalam sesi diskusi, percobaan penggunaan alat secara langsung, serta berbagai pertanyaan mengenai pengembangan dan pemanfaatan alat ke depan, termasuk kemungkinan penggunaannya untuk menabur benih [1]. Kearifan warga dalam memanfaatkan barang bekas seperti pipa paralon turut menjadi modal penting yang membuat inovasi ini mudah diterima karena sejalan dengan kebiasaan hemat masyarakat pedesaan. Keterlibatan ibu-ibu rumah tangga — yang selama ini menjadi ujung tombak pengelolaan pertanian pekarangan — memastikan bahwa inovasi ini langsung menyentuh pengguna akhir yang sesungguhnya.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Uji coba lapangan menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya. Waktu pemupukan untuk lahan seluas 200 m² yang sebelumnya memakan waktu 45–60 menit dengan metode manual, berkurang menjadi 20–30 menit menggunakan alat penabur — penghematan waktu sebesar 40–50 persen [3]. Dari sisi ergonomis, keluhan nyeri punggung yang sebelumnya dialami oleh mayoritas petani peserta pelatihan berkurang drastis karena posisi tubuh tetap tegak selama proses pemupukan [6]. Konsumsi pupuk per tanaman juga lebih terkontrol karena mekanisme katup memastikan takaran yang relatif seragam pada setiap titik aplikasi, sehingga pupuk yang terbuang di permukaan tanah dapat diminimalkan dibandingkan cara tabur manual sebelumnya [1].

Dampak yang melampaui perencanaan awal (spillover effect) turut muncul seiring berjalannya program. Pertama, tumbuhnya kesadaran warga terhadap pentingnya pertanian organik terpadu — kombinasi alat penabur pupuk organik dan biopestisida BISBANG mendorong beberapa petani untuk mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis secara bertahap [7]. Kedua, munculnya ide-ide inovatif dari warga sendiri, seperti rencana memodifikasi alat untuk fungsi penabur benih jagung dan kacang tanah, yang menunjukkan terjadinya perubahan pola pikir dari sekadar penerima teknologi menjadi ko-kreator solusi [1]. Ketiga, program ini memicu diskusi antar-RT tentang pengelolaan limbah dapur secara kolektif sebagai bahan baku pupuk organik, yang berpotensi berkembang menjadi bank sampah organik di tingkat desa.

Penguatan sinergi antara program teknologi tepat guna dan program pemberdayaan PKK juga menjadi dampak penting yang tidak sepenuhnya direncanakan [1]. Tiga kegiatan — pembuatan alat penabur pupuk, pelatihan pupuk organik dari limbah dapur, dan pembuatan biopestisida BISBANG — dilaksanakan bersamaan dalam satu forum. Sinergi ini memperluas cakupan manfaat KKN, dari sekadar transfer teknologi tunggal menjadi penguatan kapasitas kelembagaan PKK sebagai wadah edukasi pertanian dan lingkungan bagi warga desa.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan program ini bersumber dari dua jalur utama. Pertama, dana operasional KKN Universitas Brawijaya yang menanggung biaya pembuatan prototipe, bahan pelatihan, dan logistik kegiatan selama masa penugasan 30 Juni–28 Juli 2025 [10]. Kedua, swadaya masyarakat dalam bentuk kontribusi bahan baku pipa paralon bekas yang dikumpulkan oleh warga. Biaya pembuatan satu unit alat penabur pupuk sangat terjangkau, berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000 tergantung pada penggunaan pipa baru atau bekas [3]. Skema ini membuat warga tidak perlu mengeluarkan anggaran signifikan untuk memperoleh pelatihan maupun prototipe awal alat.

Model keberlanjutan finansial inovasi ini tidak bergantung pada skema bisnis komersial, melainkan pada prinsip swadaya dan replikasi mandiri. Setiap rumah tangga petani dapat memproduksi alat secara independen tanpa memerlukan modal besar maupun keterampilan teknis tinggi. Karena biaya produksi mendekati nol saat menggunakan pipa bekas, model ini menjadi salah satu yang paling mudah direplikasi dari sisi pembiayaan. Ke depan, terdapat peluang bagi BUMDes atau kelompok usaha bersama untuk memproduksi alat dalam skala kecil dan menjualnya ke desa-desa tetangga sebagai sumber pendapatan tambahan, dengan margin keuntungan yang wajar mengingat biaya produksi yang sangat rendah.

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat dalam program ini adalah strategi integrasi pelatihan alat penabur pupuk dengan kegiatan rutin PKK yang sudah mapan [1]. Pendekatan ini menghilangkan kebutuhan untuk membangun forum baru dari nol dan memanfaatkan kepercayaan sosial yang sudah terjalin di antara anggota PKK. Pemilihan material pipa paralon bekas sebagai bahan utama juga merupakan keputusan kunci yang tepat, karena menjamin biaya produksi rendah sekaligus mendukung prinsip daur ulang barang bekas. Hasilnya, tingkat partisipasi dan antusiasme peserta jauh melampaui ekspektasi awal tim KKN.

Jika memulai dari awal, satu hal yang akan dilakukan berbeda adalah memperpanjang masa uji coba prototipe sebelum tahap sosialisasi massal. Kegagalan prototipe pertama dengan katup dari tutup botol plastik sebenarnya bisa dihindari jika mahasiswa mengalokasikan lebih banyak waktu untuk riset material di awal. Pengujian yang lebih sistematis pada berbagai jenis tanah (gembur, liat, berpasir) juga akan menghasilkan rekomendasi spesifikasi alat yang lebih kontekstual. Pendokumentasian proses pembuatan alat dalam bentuk panduan tertulis atau video sederhana juga sebaiknya disiapkan lebih awal agar warga dapat mereplikasi alat secara mandiri setelah mahasiswa KKN meninggalkan desa [1].

Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa: mulailah dengan membuat satu unit contoh dan demonstrasikan langsung di lahan milik tokoh masyarakat atau ketua kelompok tani. Testimoni dari figur yang dihormati jauh lebih efektif dalam meyakinkan warga dibandingkan presentasi teknis di ruang pertemuan. Selain itu, libatkan perempuan dan pemuda sejak awal karena mereka cenderung lebih terbuka terhadap inovasi dan menjadi agen perubahan yang efektif di tingkat rumah tangga. Terakhir, manfaatkan forum pertemuan warga yang sudah berjalan — seperti PKK atau kelompok tani — sebagai wadah pelatihan agar partisipasi lebih tinggi dan keberlanjutan lebih terjamin.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi ini dirancang agar tidak bergantung pada kehadiran tim KKN Universitas Brawijaya secara terus-menerus. Modul pelatihan pembuatan dan penggunaan alat telah diserahkan kepada kader PKK dan aparat desa sebagai panduan pelatihan mandiri yang dapat dijalankan secara berkala [1]. Kelompok PKK di setiap dusun ditetapkan sebagai unit pendamping lokal yang bertanggung jawab mendampingi warga baru yang ingin membuat alat. Pertemuan rutin PKK dapat dimanfaatkan sebagai forum penyegaran keterampilan bagi warga yang belum sempat mencoba membuat alat.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan dijamin melalui pelibatan kader PKK muda dan karang taruna dalam setiap sesi pelatihan. Inovasi ini tidak bergantung pada satu individu inovator, melainkan pada pengetahuan kolektif yang telah dibagikan ke banyak peserta pelatihan. Dengan demikian, pergantian kepala desa atau ketua PKK tidak akan mengganggu keberlangsungan program karena pengetahuan teknis telah terdistribusi ke banyak individu, bukan terkonsentrasi pada satu figur saja. Universitas Brawijaya juga membuka peluang kerja sama lanjutan melalui program KKN angkatan berikutnya untuk melakukan monitoring, evaluasi, dan pengembangan inovasi lebih lanjut — termasuk eksplorasi desain alat penabur benih yang telah diusulkan oleh warga [10].

Rencana pendapatan mandiri difokuskan pada potensi BUMDes untuk memproduksi dan mendistribusikan alat penabur pupuk ke desa-desa lain di Kecamatan Kepanjen. Dengan biaya produksi per unit yang sangat rendah dan permintaan yang potensial tinggi di wilayah agraris seperti Kabupaten Malang, skema ini dapat menjadi unit usaha pelengkap bagi BUMDes tanpa memerlukan investasi awal yang besar. Pemerintah Desa juga dapat mempertimbangkan menjadikan pembuatan alat ini sebagai materi rutin pelatihan PKK atau kelompok tani, sehingga pengetahuan terus diwariskan kepada peserta baru dari waktu ke waktu.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi alat penabur pupuk sederhana di Desa Panggungrejo memberikan kontribusi langsung maupun tidak langsung terhadap beberapa poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) [1]. Kontribusi utama berada pada SDGs poin ke-9 sebagaimana yang menjadi tujuan awal program, namun dampak multiplier yang muncul — termasuk dari integrasi dengan program pupuk organik dan biopestisida BISBANG — juga menyentuh beberapa poin SDGs lainnya.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Alat penabur pupuk meningkatkan efisiensi pemupukan yang berdampak pada pemerataan distribusi nutrisi tanaman, sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas pangan skala rumah tangga di dua dusun [1]. Integrasi dengan pupuk organik dan biopestisida BISBANG mendukung pertanian berkelanjutan [7]. Peningkatan efisiensi pemupukan 40–50%; pengurangan penggunaan pupuk kimia secara bertahap; pupuk tersalur langsung ke akar tanaman
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Pelatihan pembuatan dan penggunaan alat memberi keterampilan teknologi tepat guna bagi warga, disampaikan melalui forum PKK yang sudah berjalan rutin [1]. Program BISBANG turut menambah literasi pertanian organik bagi ibu rumah tangga [7]. Demonstrasi dan pelatihan pembuatan alat terlaksana bersama PKK; warga aktif berdiskusi dan mencoba langsung alat; modul pelatihan diserahkan ke kader PKK
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Penghematan waktu pemupukan membebaskan petani untuk mengalokasikan waktu ke aktivitas produktif lainnya. Potensi produksi alat oleh BUMDes membuka peluang usaha ekonomi baru di tingkat desa [3]. Penghematan waktu kerja 40–50% per sesi pemupukan; biaya produksi alat Rp 30.000–50.000 per unit; potensi unit usaha BUMDes baru
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Inovasi teknologi tepat guna yang aplikatif, murah, dan mudah direplikasi mendorong penggunaan teknologi sederhana yang berkelanjutan di lingkungan pedesaan [1]. Alat ini membuktikan bahwa inovasi tidak harus mahal untuk memberikan dampak nyata bagi petani. 1 inovasi TTG dikembangkan dan diujicobakan di Dusun Tegaron dan Tulaan; biaya produksi di bawah Rp 50.000 per unit; replikasi mandiri oleh warga
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Pemanfaatan pipa paralon bekas sebagai bahan utama mendukung prinsip daur ulang dan pengurangan limbah [1]. Integrasi dengan pupuk organik dari limbah dapur dan biopestisida dari kulit bawang memperkuat siklus produksi yang ramah lingkungan [7]. Material utama dari pipa bekas; limbah dapur diolah menjadi pupuk organik; kulit bawang diolah menjadi biopestisida BISBANG
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara perguruan tinggi (Universitas Brawijaya), pemerintah desa, dan masyarakat (PKK, petani) menunjukkan model kemitraan multi-stakeholder yang efektif dalam mendorong inovasi di tingkat desa [10]. 743 mahasiswa KKN FMIPA UB diterjunkan ke 51 desa; 3 pihak terlibat aktif; PKK dan Pemdes menjadi mitra pelaksana

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum untuk mereplikasi inovasi ini sangat rendah, menjadikannya salah satu inovasi paling mudah diterapkan di berbagai konteks desa. Sebuah desa hanya memerlukan tiga hal: ketersediaan pipa PVC (baru atau bekas) yang umumnya mudah ditemukan di rumah tangga maupun toko bangunan, satu orang yang terlatih sebagai fasilitator pelatihan, dan forum warga yang sudah berjalan (seperti PKK, kelompok tani, atau karang taruna) sebagai wadah sosialisasi [1]. Tidak diperlukan infrastruktur khusus, mesin, atau keterampilan teknis tingkat tinggi.

Estimasi biaya replikasi untuk satu desa yang melibatkan 30–50 peserta pelatihan berkisar antara Rp 1.500.000 hingga Rp 3.000.000, mencakup pengadaan bahan baku pipa untuk pelatihan (Rp 750.000–1.500.000), peralatan pendukung seperti gergaji dan lem pipa (Rp 300.000–500.000), serta biaya konsumsi dan dokumentasi kegiatan (Rp 450.000–1.000.000). Durasi pelatihan cukup singkat, yakni satu hari penuh untuk teori dan praktik pembuatan alat, ditambah satu hari pendampingan penggunaan di lahan pertanian [3]. Desa yang memiliki kelompok tani aktif dan pendamping desa yang responsif dapat menuntaskan seluruh rangkaian kegiatan dalam waktu satu minggu.

Model adaptasi inovasi ini sangat fleksibel. Dimensi pipa dapat disesuaikan dengan jenis tanaman yang dibudidayakan — pipa lebih pendek untuk tanaman hortikultura rendah, lebih panjang untuk tanaman perkebunan tinggi [8]. Diameter lubang keluaran dapat dimodifikasi sesuai jenis pupuk (granular kasar atau halus). Untuk konteks desa yang membudidayakan tanaman benih, alat serupa bisa diadaptasi menjadi alat penabur benih dengan penyesuaian mekanisme katup — sejalan dengan masukan warga Panggungrejo [1]. Untuk scale up di tingkat kabupaten, Fakultas MIPA Universitas Brawijaya dapat menjadikan inovasi ini modul standar program KKN teknologi tepat guna di desa-desa pertanian lain yang tersebar di 12 kecamatan Kabupaten Malang [10]. Strategi scale up yang paling realistis adalah memasukkan pelatihan ini ke dalam kurikulum KKN perguruan tinggi mitra dan program pendampingan desa oleh Kementerian Desa, sehingga menjangkau ribuan desa secara simultan melalui jaringan yang sudah ada.

 

Daftar Pustaka

[1] Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, “Inovasi Tepat Guna di Desa Panggungrejo: Alat Penabur Pupuk Sederhana Tingkatkan Efisiensi Pemupukan,” stem.ub.ac.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://stem.ub.ac.id

 

[2] Wikipedia, “Panggungrejo, Kepanjen, Malang,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Panggungrejo,_Kepanjen,_Malang

 

[3] Fanshurinstitute, “Alat Penabur Pupuk Sederhana Berbahan Pipa Paralon: Teknologi Tepat Guna untuk Pertanian Indonesia,” fanshurinstitute.org, 2024. [Online]. Tersedia: https://fanshurinstitute.org

 

[4] Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang, “Kecamatan Kepanjen Dalam Angka 2023,” malangkab.bps.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://malangkab.bps.go.id

 

[5] Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang, “Data Produksi Padi Kecamatan Kepanjen Tahun 2023,” malangkab.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://malangkab.go.id

 

[6] Kompasiana, “Alat Tabur Pupuk dari Pipa Paralon: Solusi Sederhana untuk Pertanian Berkelanjutan,” kompasiana.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://kompasiana.com

 

[7] Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, “Program BISBANG: Biopestisida dari Kulit Bawang oleh Mahasiswa KKN FMIPA UB di Desa Panggungrejo,” stem.ub.ac.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://stem.ub.ac.id

 

[8] S. A. Mukaromah dan R. Hidayat, “Pemberdayaan Kelompok Tani melalui Alat Penabur Pupuk Sederhana di Desa Lamatti Riattang Kabupaten Sinjai,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 2023. [Online]. Tersedia: https://jurnalpengabdianmasyarakatbangsa.com

 

[9] Pemerintah Kabupaten Malang, “Profil Desa Panggungrejo Kecamatan Kepanjen,” malangkab.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://malangkab.go.id

 

[10] Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, “Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Berangkatkan 743 Mahasiswa KKN 2025 untuk Bangun Desa melalui Teknologi Tepat Guna,” stem.ub.ac.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://stem.ub.ac.id

Data Inovasi

Nama Inovasi
Alat Penabur Pupuk Sederhana (Teknologi Tepat Guna Berbahan Pipa Paralon)
Alamat
Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur 65163
Inovator
Mahasiswa KKN FMIPA Universitas Brawijaya 2025, difasilitasi Pemerintah Desa Panggungrejo dan Kelompok PKK Desa Panggungrejo
Kontak
Telepon: (0341) 3904149 / 0857-4948-2638 (Kantor Desa Panggungrejo)
Lokasi