Ringkasan Inovasi

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tangkit Baru merupakan sebuah lompatan inovasi kelembagaan ekonomi berbasis agribisnis yang berlokasi di Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Mulai dipersiapkan secara intensif dan menjadi lokasi peluncuran percontohan tingkat provinsi pada Juli 2025, koperasi ini hadir untuk menjawab ketimpangan rantai pasok yang menekan harga jual panen petani nanas dan mematikan usaha warung kecil. Diinisiasi oleh tokoh masyarakat dan pengurus koperasi seperti Muhammad Syahid, serta didukung penuh oleh Gubernur Jambi dan Bupati Muaro Jambi, KDMP ini mengembangkan dua pilar inovasi utama: model bisnis hilirisasi komoditas nanas terpadu (dilengkapi fasilitas *cold storage* dan agrowisata) serta model ritel “Simbiosis Mutualisme” yang memosisikan koperasi sebagai pemasok grosir bagi warung-warung kelontong tradisional, bukan sebagai pesaing. Dampak utamanya adalah peningkatan signifikan pada pendapatan riil petani, penyerapan tenaga kerja lokal di sektor pengolahan, dan terciptanya stabilitas harga kebutuhan pokok, yang menjadikan Desa Tangkit Baru sebagai model ideal korporasi perdesaan di Sumatera.

Latar Belakang

Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, telah lama dikenal sebagai sentra penghasil buah nanas terbesar di Provinsi Jambi. Dengan topografi lahan gambut yang disulap menjadi lahan pertanian produktif, kawasan ini dianugerahi potensi agraris yang luar biasa. Sepanjang mata memandang, hamparan kebun nanas menjadi urat nadi perekonomian bagi mayoritas penduduk yang berprofesi sebagai petani. Namun, di balik predikat mentereng sebagai lumbung nanas, tersimpan ironi struktural yang membelenggu kesejahteraan warganya.

Berdasarkan kondisi awal (*baseline*) sebelum adanya intervensi koperasi yang komprehensif, para petani nanas terjebak dalam lingkaran setan rantai pasok. Ketika musim panen raya tiba, buah nanas melimpah ruah namun harganya sering kali anjlok drastis karena dipermainkan oleh tengkulak besar dari luar daerah. Petani kehilangan potensi margin keuntungan hingga 30-40% karena buah segar cepat membusuk tanpa adanya fasilitas penyimpanan pendingin (*cold storage*). Di sisi lain, harga *input* produksi seperti pupuk dan biaya hidup sehari-hari terus merangkak naik. Para pemilik warung kelontong di desa juga menghadapi kesulitan bersaing dengan agen-agen besar dari kota yang mematok harga eceran barang kebutuhan pokok terlampau tinggi.

Peristiwa pemicu (*trigger event*) untuk mengubah keadaan ini bermula dari dicanangkannya megaproyek nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden RI yang diiringi oleh Instruksi Presiden (Inpres) No. 9/2025. Terpilihnya Tangkit Baru sebagai pilot *project* dan titik peluncuran (*launching*) untuk wilayah Provinsi Jambi menyadarkan tokoh-tokoh desa bahwa mereka tidak boleh sekadar menjadi penonton atau objek proyek. Ini adalah momentum terbaik untuk merebut kembali kedaulatan ekonomi. Jika desa ini mampu menghasilkan jutaan buah nanas, maka desa ini pulalah yang harus menentukan harga dan menikmati nilai tambahnya melalui sebuah kelembagaan koperasi yang modern dan berpihak pada rakyat.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan oleh KDMP Tangkit Baru tidak hanya berpusat pada satu titik, melainkan mencakup transformasi struktural dari hulu ke hilir. Di sektor produksi (hulu), koperasi ini tidak sekadar membeli nanas segar dari petani, melainkan memelopori hilirisasi agribisnis skala desa. Koperasi memfasilitasi pengolahan buah nanas menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi seperti selai, sirup, keripik nanas, hingga mengekstrak serat daun nanas menjadi bahan tekstil ramah lingkungan.

Secara mekanisme, inovasi ini didukung oleh pembangunan infrastruktur modern berupa *Cold Storage* (gudang pendingin). Fasilitas ini menjawab kelemahan utama komoditas pertanian; saat harga anjlok atau produksi melimpah, nanas dapat disimpan lebih lama tanpa mengurangi kualitasnya, menunggu momentum harga pasar kembali stabil. Selain itu, kebun-kebun nanas anggota dikemas menjadi kawasan Agro-wisata Desa, menambah keran pendapatan sekunder dari sektor pariwisata.

Hal yang paling membedakan inovasi KDMP Tangkit Baru dari koperasi ritel lainnya adalah strategi “Simbiosis Mutualisme” pada ketujuh unit usaha utamanya (sembako, apotek, klinik, logistik, dll). Sering kali, kehadiran toko modern bersubsidi mematikan usaha warung kelontong lokal. Namun di sini, koperasi tidak menjual eceran secara agresif. Warung-warung tradisional justru direkrut menjadi agen resmi koperasi. Koperasi mengambil barang grosir langsung dari Bulog atau produsen besar, lalu menyuplainya ke warung lokal. Warung mendapatkan harga beli yang lebih murah, dan koperasi memotong ongkos distribusi. Pendekatan ini menyelamatkan usaha mikro sekaligus memastikan harga sembako dan gas LPG 3 kg di desa tetap terjangkau.

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan membangun korporasi desa ini diawali pada paruh pertama tahun 2025 dengan melakukan pemetaan potensi dan perumusan unit bisnis. Pengurus koperasi yang dipimpin oleh barisan pemuda dan tokoh masyarakat, termasuk Muhammad Syahid, bahu-membahu menata fisik gerai dan melengkapi perizinan. Mereka mengonsolidasikan tujuh unit usaha turunan yang mencakup layanan pos, asuransi, hingga keagenan BRI Link agar masyarakat tidak perlu lagi menempuh jarak jauh ke kota hanya untuk bertransaksi keuangan.

Dalam perjalanannya, tentu ada eksperimen dan tantangan yang harus dikoreksi. Pada awal penataan *layout* (tata letak) gerai ritel koperasi, barang-barang pertanian (seperti pupuk) sempat dicampur pada satu area yang sama dengan bahan makanan pokok. Hal ini menyebabkan keluhan dari warga terkait kebersihan dan kontaminasi aroma. Kesalahan ini langsung dievaluasi saat Gubernur Jambi, Al Haris, melakukan inspeksi. Beliau memberikan arahan untuk menata ulang gerai (*redesign*) agar secara visual lebih menarik dan pemisahan antara zona logistik pertanian dengan zona sembako/apotek dilakukan secara tegas.

Wawasan berharga yang dipetik dari fase penataan ini adalah bahwa pelayanan di tingkat desa pun kini harus berstandar ritel modern. Kualitas penataan rak, kebersihan, dan keramahtamahan pengurus menjadi faktor kunci yang menentukan apakah warga mau menggeser kebiasaan belanjanya ke koperasi atau tidak.

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar yang dihadapi KDMP Tangkit Baru saat ini justru terletak pada aspek eksternal, yakni kepastian akses permodalan skala besar. Wakil Ketua Usaha KDMP, Muhammad Syahid, secara terbuka menyuarakan kesulitan operasional karena belum cairnya skema dukungan modal Rp3 miliar (dengan bunga 6 persen) dari Kementerian Keuangan. Keterbatasan kas ini membuat pembelian hasil panen nanas dalam skala masif dan penyediaan stok sembako belum maksimal pada bulan-bulan pertama beroperasi.

Di ranah internal, mengintegrasikan pemilik warung kelontong agar mau bergabung menjadi agen resmi koperasi bukanlah hal mudah. Banyak yang apatis dan khawatir margin keuntungan mereka akan dipatok oleh pengurus koperasi.

Mitigasi yang ditempuh untuk mengatasi kendala permodalan adalah dengan melakukan lobi dan advokasi langsung. Kunjungan anggota legislatif pusat (DPR RI) dimanfaatkan oleh pengurus untuk menitipkan aspirasi agar hambatan birokrasi perbankan (Himbara) segera dipangkas. Sembari menunggu pencairan pusat, pengurus memutar kas dari iuran mandiri dan keuntungan *fee-based income* (layanan BRI Link dan pos) untuk memutar bisnis sembako harian. Untuk mengatasi apatisme warung kelontong, koperasi menerapkan “harga promo perkenalan” pada gas LPG dan beras, yang secara matematis membuktikan bahwa margin yang didapat warung jauh lebih besar bila mengambil dari koperasi dibandingkan dari agen luar.

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan peluncuran dan operasional awal KDMP Tangkit Baru dipacu oleh dua faktor penentu: dukungan ekosistem politik dan rekayasa model bisnis yang adaptif. Kehadiran langsung Gubernur Al Haris, Bupati Bambang Bayu Suseno (BBS), hingga jajaran kementerian memberikan legitimasi yang sangat kuat, memudahkan koperasi mendapatkan izin edar produk olahan (PIRT) dan status distributor resmi.

Selain itu, keberhasilan membumikan regulasi menjadi model “Koperasi Produksi & Agribisnis” (berbasis nanas) sangatlah tepat. Koperasi tidak memaksakan diri menjadi pabrik manufaktur berat, melainkan mengambil peran sentral yang selama ini kosong, yaitu sebagai *off-taker* penyedia gudang pendingin dan agregator pemasaran. Kepatuhan terhadap kearifan lokal di mana seluruh warga (termasuk pemilik warung kelontong) diwajibkan menjadi anggota koperasi, memastikan bahwa laba koperasi pada akhirnya akan kembali ke kantong masyarakat dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU).

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak nyata dari revolusi di lahan gambut ini langsung terasa pada struktur harga lokal. Merujuk pada kondisi awal (*baseline*), petani kini tidak perlu lagi membuang nanas berukuran kecil yang ditolak tengkulak, karena koperasi menyerapnya untuk diolah menjadi selai dan sirup. Keuntungan bersih petani meningkat berkat kepastian pasar *off-taker* yang ditawarkan oleh fasilitas *cold storage*.

Dari sisi sosial-ekonomi, sentralisasi 7 unit usaha di satu titik menyebabkan uang yang beredar tidak lari ke luar daerah (*capital flight*). Warga mendapatkan gas LPG 3 kg tanpa antrean panjang dari agen spekulan, dan warung-warung kecil bernapas lega karena mendapat pasokan beras dan gula murah. Pola pikir masyarakat pun berubah dari yang awalnya pasif menerima harga pasar, kini menjadi komunitas pengusaha kolektif yang bangga mengonsumsi produk olahan desanya sendiri. Sentuhan Agro-wisata juga mulai mendatangkan devisa wisata, meramaikan perekonomian sektor informal di sekitar desa.

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Arsitektur pendanaan KDMP Tangkit Baru dirancang menggunakan skema bauran modal (*blended finance*). Modal inisiasi berasal dari Simpanan Pokok dan Wajib masyarakat yang bergotong-royong. Untuk pembangunan fisik, koperasi memanfaatkan dukungan dari optimalisasi Dana Desa sesuai Permendesa yang memperbolehkan alokasi hingga 30% untuk dukungan permodalan kelembagaan ekonomi desa.

Model bisnis (*revenue model*) sangat terdiversifikasi. Pemasukan utama berasal dari margin ritel/grosir unit sembako dan gas, disusul oleh margin perdagangan (*trading*) hasil bumi nanas, penjualan produk olahan hilir (sirup, selai), serta *fee* dari jasa layanan keuangan. Strategi keberlanjutan investasi dirancang melalui penyerapan Sisa Anggaran Lebih (SAL) APBN melalui skema pinjaman ringan di bank Himbara. Pendapatan pasif dari penyewaan *cold storage* kepada koperasi desa tetangga juga diproyeksikan menjadi *cash-cow* (sumber dana segar) di masa depan agar ketergantungan pada hibah pemerintah tidak lagi diperlukan.

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Pelajaran paling esensial dari Tangkit Baru adalah bahwa program dari pusat harus dijahit menyesuaikan “baju” ukuran desa setempat. Keputusan strategis untuk tidak bersaing dengan warung rakyat, melainkan menjadikan mereka agen, adalah langkah mitigasi konflik sosial yang sangat cerdas. Ini membuktikan bahwa ekonomi kerakyatan bukan soal siapa yang paling besar, melainkan siapa yang paling merangkul.

Hal yang akan dilakukan berbeda di masa mendatang adalah memastikan seluruh sistem pencatatan keuangan dan pergudangan sudah terdigitalisasi (*cashless* dan *real-time dashboard*) sebelum gerai resmi diluncurkan, guna mencegah kebocoran barang dan menjaga kepercayaan publik.

Saran praktis bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini: petakan terlebih dahulu kekuatan *supply chain* komoditas unggulan desa Anda. Jika desa Anda penghasil padi, bangunlah fasilitas pengeringan; jika penghasil ikan, bangun pabrik es. Jangan hanya fokus pada pembangunan gerai toko modern tanpa memperkuat mesin produksi hulunya.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Menjamin umur panjang inovasi raksasa ini membutuhkan manajemen yang tidak bergantung pada figur politik sesaat. Secara tata kelola, pengurus inti KDMP telah diserahkan kepada profesional lokal (pemuda terdidik desa) yang digaji secara layak, sementara perangkat desa (seperti Kepala Desa) hanya diposisikan sebagai dewan pengawas (*ex-officio*).

Regenerasi kepemimpinan dibangun melalui pelibatan karang taruna dalam unit usaha Agro-wisata dan pengolahan digitalisasi produk (*e-commerce*). Ke depannya, rencana pendapatan mandiri akan diperkuat dengan menggandeng perguruan tinggi lokal di Jambi untuk standardisasi mutu produk olahan nanas agar dapat menembus pasar ritel modern berskala nasional atau bahkan ekspor.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Hilirisasi agribisnis dan penguatan ritel mikro yang digagas KDMP Tangkit Baru berkontribusi langsung pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Memutus praktik monopoli tengkulak dengan membeli panen nanas harga wajar dan mensuplai sembako murah untuk warung desa. Peningkatan margin laba kotor petani nanas hingga 30% dan penurunan HPP sembako di desa.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Hilirisasi pengolahan produk nanas dan pengembangan unit layanan *cold storage* menyerap puluhan tenaga kerja produktif di sekitar kawasan. Jumlah tenaga kerja baru (pemuda & wanita) di sektor pengolahan nanas (*home industry*).
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur penting (Gudang Pendingin/*Cold Storage*) menjadi penyangga utama ketahanan logistik pertanian pascapanen. Volume tonase komoditas buah yang dapat diselamatkan dari pembusukan setiap bulannya.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Pemerataan akses layanan finansial melalui agen BRI Link dan Pos ke pedesaan, menyetarakan kualitas hidup warga desa dengan masyarakat urban. Tingginya frekuensi dan nilai transaksi layanan jasa keuangan yang berputar di gerai koperasi.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model hulu-hilir (Agribisnis – Ritel) KDMP Tangkit Baru dirancang untuk sangat mudah direplikasi (*scalable*). Prasyarat minimum bagi desa lain adalah kejelian dalam memetakan komoditas unggulan desa dan komitmen warga untuk menabung saham koperasi awal. Perlu dicatat bahwa pendekatan “Simbiosis Mutualisme” mewajibkan pengurus membuang ego sektoral dan merangkul pedagang yang sudah ada.

Estimasi biaya replikasi sangat bervariasi. Jika desa hanya mereplikasi model grosir sembakonya, dibutuhkan modal tunai sekitar Rp30-50 juta. Namun jika mereplikasi pembangunan infrastruktur *Cold Storage*, dibutuhkan skema investasi lanjutan dari program lintas kementerian yang bisa memakan waktu hingga satu tahun masa perencanaan. Meski begitu, model ini membuktikan bahwa jika dikelola dengan integritas dan *business plan* yang rasional, koperasi rakyat di desa bukanlah utopia.

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Provinsi Jambi, “Launching Koperasi Desa Merah Putih di Desa Tangkit Baru,” Opendata.jambiprov.go.id, Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://opendata.jambiprov.go.id/publikasi/berita/53/launching-koperasi-desa-merah-putih-di-desa-tangkit-baru53.

[2] Zabak.id, “Usai Diluncurkan, H. Bakri Langsung Sidak Kopdes Tangkit Baru,” Zabak.id, Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://zabak.id/umum/zabak-usai-diluncurkan-h-bakri-langsung-sidak-kopdes.

[3] S. Ir, “Koperasi Merah Putih di Jambi: Motor Baru Ekonomi Rakyat atau Ancaman Bagi Warung Tradisional?,” Jambilink.id, Okt. 2026. [Online]. Tersedia: https://jambilink.id/post/8828/koperasi-merah-putih-di-jambi-motor-baru-ekonomi-rakyat-atau-ancaman-bagi-warung.

[4] IMCNews, “Gubernur Al Haris Tinjau Kesiapan Koperasi Merah Putih Tangkit Baru,” Imcnews.id, Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.imcnews.id/read/2025/07/19/25417/gubernur-al-haris-tinjau-kesiapan-koperasi-merah-putih-tangkit-baru.

[5] Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi, “Profil Kawasan Agro-wisata Nanas Desa Tangkit Baru,” Muarojambikab.go.id, Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://muarojambikab.go.id/.

Kata Kunci:

Data Inovasi

Nama Inovasi
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tangkit Baru
Alamat
Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi
Inovator
Muhammad Syahid (Wakil Ketua Usaha) dan Pengurus KDMP Tangkit Baru
Kontak
Telepon: 0821-2483-2785
Lokasi