Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, meluncurkan Pelayanan Cepat tanpa Meninggalkan Kerjoan atau Pecel Tempe Mendoan sejak awal 2022 [1]. Program ini digagas Kepala Desa Rendyta Witrayani Setyawan, perempuan pertama yang menjabat Kepala Desa Senggreng sejak terpilih lewat Pemilihan Kepala Desa Antarwaktu pada Maret 2022 [5]. Inovasi ini menjawab persoalan warga desa yang mayoritas bekerja sebagai petani dan pedagang dengan jadwal padat, sehingga sulit meluangkan waktu mengurus dokumen kependudukan ke kantor desa maupun kecamatan [3]. Melalui skema jemput bola, petugas desa mendatangi rumah warga untuk mengambil berkas dan mengantarkan dokumen yang sudah selesai, mencakup akta kelahiran, akta kematian, Kartu Keluarga, KTP, Kartu Identitas Anak, hingga surat pindah [3]. Warga cukup menghubungi petugas lewat WhatsApp atau Ketua RT tanpa dipungut biaya sepeser pun [1]. Inovasi ini mendapat apresiasi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan hadiah sepeda motor dari Bupati Malang untuk mendukung mobilitas petugas [2], [4].

 

Latar Belakang

Desa Senggreng terletak di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan pedagang yang memiliki jadwal aktivitas padat sejak pagi hingga petang [3]. Kepala Desa Rendyta Witrayani Setyawan menjabat sejak Maret 2022 melalui mekanisme Pemilihan Kepala Desa Antarwaktu, menjadikannya kepala desa perempuan pertama sekaligus salah satu yang termuda di Kabupaten Malang saat itu [5].

Warga yang harus meninggalkan pekerjaan selama berjam-jam untuk mengurus dokumen kependudukan di kantor kecamatan berisiko kehilangan penghasilan harian yang penting bagi kebutuhan keluarga mereka. Keterbatasan waktu ini, ditambah kurangnya pemahaman warga mengenai prosedur dan persyaratan berkas, membuat sebagian warga enggan mengurus dokumen kependudukan seperti KTP, Kartu Keluarga, maupun akta kelahiran [3]. Persoalan ini berisiko menciptakan celah pendataan penduduk yang akurat, sekaligus menghambat akses warga terhadap berbagai program bantuan sosial pemerintah yang mensyaratkan dokumen kependudukan lengkap.

Momentum lahirnya inovasi muncul tak lama setelah Rendyta Witrayani Setyawan menjabat Kepala Desa Senggreng pada 2022, ketika ia menyadari banyak warga kesulitan mengurus dokumen karena benturan waktu kerja. Ia kemudian menginisiasi layanan jemput bola bernama Pelayanan Cepat tanpa Meninggalkan Kerjoan, disingkat Pecel Tempe Mendoan, agar warga tetap bisa bekerja sambil mengurus administrasi kependudukan [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah layanan jemput bola administrasi kependudukan bernama Pelayanan Cepat tanpa Meninggalkan Kerjoan, disingkat Pecel Tempe Mendoan [1]. Gagasan ini lahir dari kebutuhan mendekatkan layanan kependudukan kepada warga yang tidak memiliki waktu luang mendatangi kantor desa maupun kecamatan. Layanan ini menempatkan petugas desa sebagai kurir sekaligus fasilitator dokumen, mendatangi rumah warga menggunakan sepeda motor operasional untuk mengambil dan mengantarkan berkas.

Warga cukup menghubungi petugas melalui WhatsApp atau menginformasikan kebutuhannya kepada Ketua RT setempat, lalu Kepala Desa atau petugas akan mendatangi rumah warga untuk memeriksa kelengkapan berkas [3]. Layanan ini mencakup pengurusan akta kelahiran, akta kematian, Kartu Keluarga, KTP, Kartu Identitas Anak, surat pindah, dan pencatatan sipil lainnya, dengan sebagian dokumen seperti surat pindah dapat selesai hanya dalam satu hari [3]. Seluruh layanan ini diberikan tanpa dipungut biaya.

Elemen pembeda inovasi ini terletak pada penempatan kepala desa sendiri sebagai salah satu petugas lapangan yang turun langsung mendatangi rumah warga, bukan sekadar mendelegasikan tugas kepada staf. Pendekatan personal semacam ini membedakan Pecel Tempe Mendoan dari layanan jemput bola konvensional yang biasanya hanya dijalankan staf administrasi tanpa keterlibatan langsung pimpinan desa.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dengan menjadwalkan layanan jemput bola khusus pada hari Jumat, mendirikan pos layanan di sekolah-sekolah atau mengunjungi langsung rumah warga [1]. Warga tinggal mengisi formulir yang disediakan dan melengkapi berkas persyaratan, dengan bantuan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Negeri Malang yang turut dilibatkan dalam pelaksanaan layanan [1].

Jadwal layanan yang semula hanya tersedia setiap hari Jumat ternyata tidak mencukupi permintaan warga yang terus meningkat seiring meluasnya informasi tentang layanan ini. Pemerintah Desa Senggreng mengoreksi keterbatasan jadwal ini dengan memperluas layanan jemput bola menjadi tersedia setiap hari kerja, alih-alih membatasi hanya pada satu hari dalam seminggu [3]. Perluasan jadwal ini menjadi pembelajaran penting bahwa desain awal layanan publik perlu dievaluasi dan disesuaikan begitu permintaan riil warga melebihi kapasitas yang direncanakan.

Setelah berkas diperiksa dan dinyatakan lengkap, petugas membawanya untuk diproses di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Malang, dengan waktu penyelesaian bervariasi tergantung jenis dokumen. Begitu dokumen selesai dicetak, petugas kembali mendatangi rumah warga untuk mengantarkan hasilnya, sehingga warga benar-benar tidak perlu meninggalkan pekerjaan mereka sama sekali [3].

Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya merancang jadwal layanan yang fleksibel sejak awal, atau setidaknya siap mengevaluasi dan memperluas jadwal begitu permintaan warga melampaui kapasitas awal. Replikator juga dapat mempertimbangkan pelibatan mahasiswa KKN sebagai tenaga tambahan pada masa-masa awal perintisan layanan, sebagaimana dilakukan Desa Senggreng bersama mahasiswa Universitas Negeri Malang.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah keterbatasan jadwal layanan yang semula hanya tersedia hari Jumat, sementara kebutuhan warga muncul kapan saja sepanjang minggu. Pemerintah Desa Senggreng memitigasi tantangan ini dengan memperluas jadwal layanan jemput bola menjadi setiap hari kerja [3].

Tantangan lain adalah keterbatasan armada dan tenaga petugas untuk menjangkau seluruh warga yang tersebar di berbagai penjuru desa dengan cepat. Dukungan sepeda motor operasional tambahan dari Bupati Malang turut memitigasi keterbatasan ini, memberikan sarana mobilitas yang lebih memadai bagi petugas untuk menjangkau rumah warga [4].

Tantangan eksternal berupa proses administrasi di tingkat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Malang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah desa tetap menjadi faktor yang memengaruhi kecepatan penyelesaian dokumen. Petugas desa memitigasi hal ini dengan menjalin koordinasi rutin bersama dinas terkait agar permohonan warga dapat diproses tepat waktu.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah keteladanan Kepala Desa Rendyta Witrayani Setyawan yang turun langsung mendatangi rumah warga sebagai petugas lapangan, bukan hanya memberi instruksi dari balai desa [3]. Keteladanan kepemimpinan semacam ini mendorong seluruh perangkat desa turut bekerja dengan semangat pelayanan yang sama.

Faktor kedua adalah dukungan lintas pihak, mulai dari mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang yang membantu pelaksanaan lapangan hingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Malang yang mempercepat proses administrasi [1]. Apresiasi dan bantuan sarana mobilitas dari Bupati Malang turut melengkapi dukungan lintas pihak ini [4]. Pengakuan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut memperkuat legitimasi dan motivasi perangkat desa untuk terus mempertahankan kualitas layanan [2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi ini hadir, warga harus meluangkan waktu kerja mereka untuk datang langsung ke kantor kecamatan, berisiko kehilangan penghasilan harian demi mengurus satu dokumen kependudukan. Setelah Pecel Tempe Mendoan berjalan, warga cukup menghubungi petugas lewat WhatsApp atau Ketua RT, dengan sebagian dokumen seperti surat pindah selesai hanya dalam satu hari tanpa warga perlu meninggalkan pekerjaan [3].

Pengakuan atas inovasi ini datang dari berbagai tingkatan, mulai dari hadiah sepeda motor operasional dari Bupati Malang pada September 2022 untuk mendukung mobilitas petugas [4]. Apresiasi terbuka juga datang dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melalui unggahan media sosial resminya [2]. Program ini juga menjadi projek percontohan pelayanan administrasi kependudukan di Kabupaten Malang [1].

Momentum positif ini turut berlanjut ke capaian lain Desa Senggreng, termasuk status desa mandiri yang diraih kurang dari setahun sejak Rendyta menjabat. Kampung KB Jaya Manunggal di Desa Senggreng bahkan meraih gelar Kampung Keluarga Berkualitas terbaik tingkat nasional pada 2024 [6]. Rangkaian pencapaian ini menunjukkan bahwa perbaikan pelayanan dasar seperti administrasi kependudukan dapat menjadi pintu masuk bagi perbaikan tata kelola desa secara lebih luas.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Layanan Pecel Tempe Mendoan diberikan gratis kepada warga, dengan biaya operasional petugas dan armada ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Senggreng [3]. Dukungan sepeda motor operasional tambahan dari Bupati Malang turut meringankan kebutuhan investasi awal untuk sarana mobilitas petugas [4].

Model layanan ini tidak dirancang menghasilkan pendapatan, melainkan berfungsi sebagai layanan publik dasar yang dibiayai penuh dari anggaran desa. Keberlanjutan pembiayaan ke depan bergantung pada konsistensi alokasi anggaran desa untuk pemeliharaan armada dan operasional petugas setiap tahun, sejalan dengan rencana Pemerintah Desa Senggreng menyiapkan skema anggaran khusus untuk pemeliharaan rutin layanan ini.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menempatkan kepala desa sendiri sebagai petugas lapangan yang turun langsung ke rumah warga, alih-alih hanya mendelegasikan kepada staf, terbukti menjadi keputusan kunci yang membangun kepercayaan dan antusiasme warga terhadap layanan ini. Keputusan memperluas jadwal dari hari Jumat saja menjadi setiap hari kerja juga terbukti penting untuk memenuhi permintaan warga yang terus bertambah.

Jika memulai dari awal, Pemerintah Desa Senggreng dapat mempertimbangkan langsung merancang jadwal layanan harian sejak tahap perintisan, bukan memulai dari jadwal terbatas satu hari dalam seminggu. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi desa lain agar memperkirakan skala permintaan riil warga sebelum menetapkan jadwal layanan awal.

Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan menjalin kemitraan dengan mahasiswa KKN perguruan tinggi terdekat untuk mendukung tenaga lapangan pada tahap awal, sebagaimana dilakukan Desa Senggreng bersama mahasiswa Universitas Negeri Malang. Membangun koordinasi erat dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil setempat sejak awal juga disarankan agar proses penerbitan dokumen tidak menjadi hambatan di luar kendali desa.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Pecel Tempe Mendoan dijaga melalui skema anggaran khusus yang disiapkan Pemerintah Desa Senggreng untuk pemeliharaan rutin armada serta pelatihan berkala bagi petugas pelayanan. Sosialisasi rutin melalui pertemuan tingkat RT dan RW turut memastikan informasi layanan ini tetap merata ke seluruh warga dari waktu ke waktu.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada pelembagaan layanan jemput bola sebagai program resmi Pemerintah Desa Senggreng, bukan inisiatif pribadi Kepala Desa Rendyta Witrayani Setyawan semata. Layanan ini berpeluang tetap berjalan meski kepemimpinan desa berganti di masa depan, karena keterlibatan petugas dan staf desa lain dalam pelaksanaan sehari-hari memastikan program tidak bergantung pada satu individu saja.

Rencana keberlanjutan jangka panjang diarahkan pada pengembangan sistem pelaporan mandiri yang mengintegrasikan kebutuhan warga dengan basis data internal desa secara otomatis. Kesadaran masyarakat yang terus tumbuh akan pentingnya dokumen kependudukan menjadi modal sosial yang memperkuat keberlanjutan program ini tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dorongan pemerintah desa semata.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Pecel Tempe Mendoan Desa Senggreng berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari kelembagaan yang tangguh hingga kesetaraan gender. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik pemerataan akses layanan kependudukan bagi warga Desa Senggreng sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh Layanan jemput bola memastikan warga memiliki dokumen kependudukan lengkap, memperkuat basis data kependudukan yang akurat bagi pemerintah desa. Dokumen seperti surat pindah dapat selesai dalam satu hari tanpa warga harus datang ke kantor kecamatan.
SDGs 5: Kesetaraan Gender Kepemimpinan Rendyta Witrayani Setyawan sebagai kepala desa perempuan pertama di Senggreng membuktikan perempuan dapat memimpin inovasi pelayanan publik yang berdampak luas. Program ini digagas dan dipimpin langsung oleh kepala desa perempuan sejak menjabat pada 2022.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pemerintah Desa Senggreng dengan mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, serta Pemerintah Kabupaten Malang menunjukkan model kemitraan multipihak. Bupati Malang memberikan sepeda motor operasional dan Gubernur Jawa Timur memberikan apresiasi terbuka atas program ini.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, ketersediaan petugas atau kepala desa yang bersedia turun langsung ke rumah warga. Kedua, koordinasi yang baik dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil setempat. Ketiga, kanal komunikasi sederhana seperti WhatsApp atau jaringan Ketua RT untuk menerima permintaan layanan warga.

Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau, karena model ini hanya memerlukan sepeda motor operasional dan tenaga petugas, tanpa investasi infrastruktur digital yang mahal. Kemitraan dengan mahasiswa KKN perguruan tinggi terdekat, sebagaimana dilakukan Desa Senggreng bersama Universitas Negeri Malang, dapat menekan kebutuhan tenaga tambahan pada tahap awal perintisan.

Model jemput bola ini dapat diadaptasi desa lain dengan menyesuaikan jadwal dan cakupan wilayah layanan pada kondisi geografis serta kepadatan penduduk setempat, termasuk desa-desa di wilayah terpencil yang menghadapi kendala geografis lebih berat. Pemerintah Kabupaten Malang telah menjadikan Desa Senggreng sebagai projek percontohan pelayanan administrasi kependudukan, membuka peluang replikasi ke desa-desa lain di wilayah kabupaten [1].

 

Daftar Pustaka

[1] TIMES Indonesia, “Program ‘Pecel Tempe Mendoan’ Permudah Pengurusan Aminduk di Desa Senggreng,” timesindonesia.co.id, Jun. 2023. [Online]. Tersedia: https://timesindonesia.co.id/indonesia-positif/459360/program-pecel-tempe-mendoan-permudah-pengurusan-aminduk-di-desa-senggreng

[2] Malang Times, “Inovasi Pecel Tempe Mendoan Diapresiasi Gubernur: Dua Jempol untuk Pemdes Senggreng,” malangtimes.com, 13 Agu. 2022. [Online]. Tersedia: https://malangtimes.com/baca/271310/20220813/050200/inovasi-pecel-tempe-mendoan-diapresiasi-gubernur-dua-jempol-untuk-pemdes-senggreng

[3] Okezone, “Inovasi Kades Cantik di Malang, Datangi Rumah Warga untuk Layani Administrasi Kependudukan,” news.okezone.com, 25 Okt. 2022. [Online]. Tersedia: https://news.okezone.com/read/2022/10/25/519/2693855/inovasi-kades-cantik-di-malang-datangi-rumah-warga-untuk-layani-administrasi-kependudukan

[4] Javasatu.com, “Viral, Kades Cantik Senggreng Dapat Hadiah Motor dari Bupati Malang,” javasatu.com. [Online]. Tersedia: https://javasatu.com/desa-kita/viral-kades-cantik-senggreng-dapat-hadiah-motor-dari-bupati-malang/

[5] Radar Malang, “Rendyta Witrayani Setyawan, Kades Perempuan Termuda yang Inovatif dan Banjir Prestasi,” radarmalang.jawapos.com. [Online]. Tersedia: https://radarmalang.jawapos.com/sosok/815074843/rendyta-witrayani-setyawan-kades-perempuan-termuda-yang-inovatif-dan-banjir-prestasi

[6] Berita Jatim, “Desa Senggreng Malang Jadi Kampung Keluarga Berkualitas Terbaik se Indonesia,” beritajatim.com. [Online]. Tersedia: https://beritajatim.com/desa-senggreng-malang-jadi-kampung-keluarga-berkualitas-terbaik-se-indonesia

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pelayanan Cepat tanpa Meninggalkan Kerjoan (Pecel Tempe Mendoan)
Alamat
Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Inovator
Pemerintah Desa Senggreng (Kepala Desa Rendyta Witrayani Setyawan)
Kontak
Telp: 085880530435 | Email: senggreng.sumberpucung@malangkab.go.id
Lokasi